Sumbawa, 19 April 2026 – Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertema “Tantangan dan Peluang di Era Digital: Partisipasi, Disinformasi, dan Politik Identitas”. Diskusi tersebut berlangsung pada Minggu malam (19/4/2026) pukul 20.00 WITA di Gang Beringin IV, RT 02/RW 03, Dusun Uma Beringin, Desa Uma Beringin, Kecamatan Unter Iwes, Kabupaten Sumbawa.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan mahasiswa, pemuda, serta masyarakat umum untuk membahas berbagai dinamika politik kontemporer yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif sepanjang kegiatan.
FGD tersebut menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Heri Kurniawan HS, S.AP., MPA., dan Joni Firmansyah, S.IP., M.IP., sementara jalannya diskusi dipandu oleh moderator Thariq Zhafran. Para narasumber mengulas sejumlah isu penting, mulai dari partisipasi publik dalam demokrasi digital hingga fenomena politik identitas yang kian menguat di ruang media sosial.
Dalam pemaparannya, Heri Kurniawan HS yang juga menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Sumbawa menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi, khususnya dalam momentum pemilihan umum. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mengakses informasi politik secara lebih luas dan cepat.
Menurutnya, kemudahan akses informasi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik dan partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan melalui proses demokrasi.
“Partisipasi masyarakat menjadi salah satu indikator penting dalam kualitas demokrasi. Di era digital saat ini, masyarakat memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap informasi. Hal ini harus dimanfaatkan secara bijak untuk meningkatkan keterlibatan dalam proses pemilu maupun kegiatan politik lainnya,” ungkapnya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di dunia digital tidak selalu diiringi dengan akurasi informasi. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat dalam menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum tentu benar.


Sementara itu, Joni Firmansyah dalam pemaparannya menyoroti fenomena politik identitas yang semakin sering muncul dalam percakapan publik, khususnya di media sosial. Ia menjelaskan bahwa politik identitas kerap digunakan sebagai strategi mobilisasi dukungan politik karena mampu menyentuh aspek emosional dan kedekatan kelompok.
Menurutnya, penggunaan identitas seperti suku, agama, atau latar belakang sosial tertentu memang dapat menjadi alat mobilisasi politik yang efektif. Namun jika tidak dikelola secara bijaksana, fenomena ini berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat.
“Di era digital, penyebaran narasi politik identitas dapat berlangsung sangat cepat dan luas. Hal ini dapat mempengaruhi opini publik dalam waktu singkat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki literasi politik dan literasi digital yang baik agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang bersifat memecah belah,” jelasnya.
Diskusi kemudian berkembang dengan berbagai tanggapan dari peserta. Sejumlah mahasiswa dan pemuda yang hadir turut berbagi pandangan mengenai pengalaman mereka menghadapi banjir informasi di media sosial, termasuk fenomena disinformasi yang sering muncul menjelang momentum politik.
Para peserta juga menyoroti pentingnya kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Hal ini dinilai menjadi salah satu kunci untuk menjaga kualitas demokrasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Melalui kegiatan FGD ini, mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Teknologi Sumbawa berharap dapat mendorong tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat dalam menyikapi berbagai isu politik yang berkembang di ruang digital. Diskusi semacam ini juga diharapkan menjadi wadah edukasi publik agar masyarakat mampu berpartisipasi secara lebih aktif, cerdas, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi di era digital.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menghadirkan ruang diskusi yang konstruktif di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen literasi politik dan digital di Kabupaten Sumbawa.