679 Warga Sumbawa Terima Beasiswa, 15 Disiapkan Jadi Dokter dan Apoteker Daerah

Deltanewsroom | Harapan ratusan keluarga di Kabupaten Sumbawa kini menemukan pijakan baru. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 679 warga menerima beasiswa pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Dari jumlah tersebut, 15 mahasiswa—terdiri atas 10 mahasiswa kedokteran dan 5 mahasiswa farmasi—secara khusus diproyeksikan untuk memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan daerah di masa mendatang.

Program ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Pemerintah daerah menempatkannya sebagai strategi jangka panjang untuk menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia, termasuk persoalan distribusi tenaga kesehatan yang masih menjadi isu di berbagai daerah.

Sekretaris Badan pada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Sumbawa, Dwi Rahayu Ratih Wulandari, S.ST., M.M., menjelaskan bahwa kebijakan beasiswa dirancang berbasis kebutuhan strategis daerah. “Beasiswa ini tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil pembangunan, termasuk sektor kesehatan yang membutuhkan SDM profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, skema beasiswa mencakup berbagai jenjang pendidikan dengan seleksi berbasis kriteria akademik dan kondisi ekonomi. Pemerintah daerah juga melakukan pemetaan bidang studi prioritas agar investasi pendidikan selaras dengan arah pembangunan daerah.

Bupati Sumbawa menegaskan bahwa investasi terbesar pemerintah bukan hanya pada pembangunan fisik, melainkan pada manusia. “Kita ingin generasi Sumbawa tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka harus menjadi pelaku utama pembangunan. Beasiswa ini adalah bentuk keberpihakan nyata agar anak-anak daerah bisa mengenyam pendidikan tinggi dan kembali membangun Sumbawa,” tegasnya.

Ia menambahkan, khusus bagi mahasiswa kedokteran dan farmasi, pemerintah berharap lahir komitmen moral untuk mengabdi di daerah setelah menyelesaikan pendidikan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat sistem layanan kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga dari luar daerah.

Secara makro, peningkatan akses pendidikan tinggi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM dan daya saing daerah. Dalam jangka panjang, keberadaan tenaga profesional lokal akan mempercepat transformasi sektor pelayanan publik, terutama kesehatan dan layanan dasar masyarakat.

Program beasiswa tersebut menjadi indikator bahwa pembangunan pendidikan ditempatkan sebagai prioritas strategis. Di tengah berbagai kebutuhan pembangunan lainnya, alokasi anggaran untuk pendidikan menunjukkan orientasi jangka panjang pemerintah daerah dalam menyiapkan generasi unggul yang produktif dan berdaya saing. (Delta)